Headline

Dua Tahun Transformasi, Profit BUMN Tembus Rp 90 Triliun

0

Kerjha ― Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat keuntungan perusahaan pelat merah di Indonesia telah mencapai Rp 90 triliun dalam dua tahun terakhir. Catatan ini seiiring dengan transformasi yang digulirkan secara konsolidasi. Angka tersebut diungkapkan Menteri BUMN Erick Thohir berdasarkan laporan keuangan BUMN yang nilainya tumbuh dari Rp 13 triliun sebelum transformasi.

“Dengan bekerja keras dan sehat, maka terbukti BUMN dapat meraup keuntungan hingga mencapai Rp 90 triliun,” ujar Erick Thohir saat halal bihalal bersama Santri di Pondok Pesantren Mathlal’ul Anwar Menes, Kabupaten Pandeglang, Rabu (11/5) lalu.

Keuntungan BUMN itu didasari bekerja dengan sehat dan berkarakter, yang juga mengutamakan akhlak. Pasalnya, kekayaan tanpa akhlak akan menimbulkan kerakusan. Juga sebaliknya kepintaran tanpa akhlak akan menimbulkan kesombongan.

“Keuntungan sebesar itu tentu dikembalikan lagi ketika untuk mendukung program-program pemerintah,” sambungnya.

BUMN juga menyeimbangkan situasi pasar di tengah pandemi Covid-19. Dia mencontohkan ketika harga masker mencapai Rp 100 ribu, maka dilakukan operasi pasar dengan jaringan 1.300 perusahaan Kimia Farma sehingga dapat menurunkan hingga Rp 5.000.

Selain itu, BUMN melakukan intervensi market dengan menggelar operasi pasar (OP) di saat masyarakat mengalami gonjang-ganjing harga minyak goreng.

Kini, harga minyak goreng dijual dengan harga paket murah untuk masyarakat. “Hal itu sejalan dengan amanah orangtua kami bahwa ekonomi diibaratkan kopi yang memerlukan air panas dan gula harus diaduk-aduk biar merata,” terangnya.

Ekonomi adalah pemerataan dan tidak mungkin menetes ke satu pihak maupun ke satu kelompok lain. Karena itu, peran penting BUMN harus mengintervensi dan menjadi penyeimbang pasar untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Karena itu sebagai Menteri BUMN, Erick Thohir kerapkali mendatangi tempat pendidikan dan pondok pesantren. “Sudah seharusnya Menteri BUMN berada di tengah umat dan mendorong akhlak itu, karena pesantren dan pendidikan Islam sudah memiliki pondasi,” katanya.

Direktur Utama Holding Pangan ID Food Frans Marganda Tambunan mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan dan memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk meningkatkan kemandirian pangan melalui pondok pesantren.

Hal tersebut diwujudkan dengan menggelaran pasar murah bersama Kementerian BUMN dan pondok pesantren di wilayah Banten. Sebanyak 2.000 paket sembako (beras, minyak goreng, dan gula), didistribusikan melalui PT Perusahaan Perdagangan Indonesia dan Rajawali Nusindo untuk memenuhi kebutuhan komunitas santri di pondok pesantren.

“Kami senang ada kegiatan pasar murah dari BUMN di pondok pesantren karena kebutuhan pangan pokok juga diperlukan para santri maupun keluarga,” ungkap Ida, pengurus Ponpes Mathla’ul Anwar.

Sementara itu, Direktur Komersial dan Pengembangan PT PPI Andry Tanundjaja mengatakan, cadangan minyak goreng melimpah dan mencukupi kebutuhan nasional, terlebih pemerintah menyetop impor minyak goreng.

Karena itu, PPI terus dan akan tetap mendukung program pemerintah dalam menjamin keterjangkauan dan ketersediaan pangan dengan menjual paket murah. (HAS)

Tulisan Terkait

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *