Berita

Ganjar Siapkan Regulasi dan Insentif untuk Pengelola Sampah

0

Kerjha — Calon presiden dan calon wakil presiden Ganjar Pranowo-Mahfud Md mengusung program terkait regulasi dan insentif untuk para pengelola sampah. Pengeloaan sampah yang dilakukan oleh masyarakat secara mandiri merupakan bagian dari ekonomi sirkular.

Ganjar menegaskan dukungannya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sirkular dan merupakan bagian dari program prioritas saat bertemu dengan para pemulung di Rumah Pemulihan Material (RPM) Waste4Change, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (5/2).

“Saya kira ini cukup bagus dan bisa kita tunjukkan kepada publik, praktiknya sudah sejak 2015 mereka mengelola. Sejak longsor di Leuwigajah. Kemudian, Bantar Gebang juga sudah lama terjadi proses penumpukan yang belum selesai. Saya tantang bisa tidak diselesaikan,” tegas Ganjar.

Pengelolaan sampah pada RPM Waste4Change merupakan bukti nyata bahwa ekonomi sirkular tumbuh di tengah masyarakat.

“Saya kira mereka bisa menyelesaikan persoalan sampah dari awal dan ini butuh edukasi. Tidak semudah yang kita bayangkan, tapi ini contoh terbaik, tinggal mereplikasi saja untuk kita uji coba. Ini bisa kita lakukan,” ujarnya.

Oleh karena itu, menurut capres berambut putih ini, program Ganjar-Mahfud untuk menciptakan 17 juta lapangan pekerjaan bukan sekadar membuka pabrik untuk investasi dan menyerap pegawai. Namun, pengelola sampah juga bisa dikembangkan menjadi “entrepreneur”.

“Tinggal ada dua saja, kita membuat regulasi dan memberikan insentif kepada mereka atau bantuan. Kalau kita bicara ekonomi sirkular ini bagus sekali,” ujarnya.

Persoalan sampah di Indonesia didominasi persoalan lemahnya eksekusi terhadap Undang-Undang No. 18 Tahun 2008. Reformasi pengelolaan sampah perlu didorong agar metode kumpul, angkut, buang secara open dumping ke landfill tidak berlanjut terus-menerus.

Tragedi 21 Februari 2005 yang kemudian dikenang sebagai Hari Peduli Sampah Nasional, telah menjadi catatan perih dalam peradaban bangsa Indonesia.

CEO Waste4Change, perusahaan penyedia jasa profesional pengelolaan sampah secara bertanggung jawab, M. Bijaksana Junerosano atau Sano mengatakan, pihaknya telah menerapkan strategi dan teknologi sederhana yang solutif untuk mengelola sampah agar terjadi ekonomi sirkular.

“Dan sampah tidak berulang menjadi bencana karena dibuang dan terbuka di tempat pemrosesan akhir (TPA),” kata Sano.

Pada pertemuan itu, Ganjar berdialog dengan para pelaku sektor informal persampahan seperti para pemulung dan ibu-ibu penggerak bank sampah.

Momentum ini sangat berarti dalam upaya bersama untuk memperbaiki tata kelola sampah Indonesia. Terlebih setelah tragedi longsor gunungan sampah 21 Februari 2005 silam, tata kelola sampah Indonesia hingga kini mash didominasi kumpul, angkut, buang. (*)

Tulisan Terkait

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *