Headline

Hajatan Rakyat Solo, Putri Penyair Wiji Thukul Ingatkan Janji Jokowi

0

Kerjha — Putri penyair Wiji Thukul, Fitri Nganti Wani hadir pada Hajatan Rakyat Solo yang digelar di Benteng Vastenburg, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (10/2). Muncul bersama budayawan Butet Kartaredjasa, Fitri yang mengenakan kebaya merah marun mengingatkan janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang akan menyelesaikan kasus penghilangan paksa terhadap ayahnya dan para korban lainnya.

Fitri mengingatkan jika Jokowi pernah menjanjikan akan mencari Wiji Thukul yang diculik di era Orde Baru, hidup atau mati.

“Kasus penghilangan paksa bapak, sampai sekarang kami masih mengingat janji bapak Presiden Jokowi, perihal Wiji Thukul harus ketemu, kasus harus bisa selesai, dan harus bisa ditemukan hidup atau mati,” kata Fitri Nganti Wani.

Janji Jokowi itu, menurut Wani, direkam wartawan sewaktu ditanya tentang kedekatannya dengan keluarga Wiji Thukul.

Dalam kesempatan itu, Wani turut membacakan puisi karya sang ayah yang berjudul Peringatan.

Jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Sementara, Butet menyebutkan, Solo merupakan kota bersejarah yang turut bergerak menumbangkan Orde Baru. Selain pernah muncul gerakan Mega-Bintang, di kota ini juga terdapat penyair Wiji Thukul yang melahirkan karya-karya puisi fenomenal.

“Solo yang menumbangkan Orde Baru. Ada kekuatan yang dahsyat dari Solo, maka aku datang ke sini dengan cinta. Dari Solo, lahir penyair besar yang menjadi martir. Sahabatku, Wiji Thukul yang diculik. Dan, yang menculik mencapreskan diri,” kata Butet di panggung Hajatan Rakyat Solo.

Butet mengatakan puisi Wiji Thukul masih relevan hingga sekarang. Ia pun kemudian membacakan puisi Wiji Thukul, Sajak Suara yang dibuat 1988 di masa Orde Baru.

Butet juga tampil menirukan suara mantan Presiden Soeharto, lalu bertransformasi menjadi suara Jokowi.

Dialog komedi-satir ini merupakan kritik dan pengingat untuk menjaga Indonesia agar terus menjadi republik yang berdiri di atas pilar demokrasi dan prinsip-prinsip penegakan hukum. (*)

Tulisan Terkait

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *