Headline

Ganjar Gagas Roadmap Swasembada Gula

0

Kerjha — Calon presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo menggagas roadmap dan kebijakan strategis jangka menengah untuk mewujudkan swasembada gula nasional. Selain merumuskan kebijakan publik berdasarkan riset tentang isu yang dihadapi para petani, Ganjar juga menjamin akan menyediakan solusi berkelanjutan yang mengedepankan pembelian gula petani.

“Isu terkait keberlanjutan ekonomi, pertanian, dan kebijakan impor cukup kompleks. Kita perlu pengembangan roadmap dan langkah-langkah strategis jangka menengah yang baik untuk mencari solusi berkelanjutan,” kata Ganjar pada sarasehan petani tebu di Klinter, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Jumat (12/1).

Ganjar mengatakan, dalam pelaksanaan riset, wajib melibatkan lembaga negara, korporasi, pemerintah dan petani.

“Ketika kita berbicara penguatan Badan Riset Inovasi Nasioanl (BRIN), biaya risetnya 1 persen dari PDB. Kita tugaskan BRIN, korporasi, petani, dan pemerintah untuk duduk bersama. Sediakan dong bibit tebu unggul. Kita minta para ahli bagaimana cara menggunakan pupuk agar sesuai kapasitasnya, kita minta para peneliti dan kampus-kampus untuk terlibat,” jelas Ganjar.

Capres berambut putih ini mengungkapkan, kebijakan impor bahan pangan seringkali tidak seimbang dan menyebabkan harga tidak stabil, yang kemudian merugikan petani dan masyarakat.

“Mbok, kalau impor gula, tebu petaninya dibeli lebih dulu. Jangan sampai kebutuhannya lebih berat pada impor, kita tidak akan pernah mandiri,” imbuhnya.

Mantan gubernur Jawa Tengah dua periode itu juga menjelaskan, ketidakseimbangan strategi impor juga kerap terjadi dalam sistem pertanian tembakau. Ia menyayangkan kondisi ini terjadi, sehingga menyebabkan Indonesia seolah-olah tidak mandiri memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Sebenarnya di Jawa Tengah, saya sering mendengar tembakau kita belum terbeli semua, tapi keran impor dibuka. Kemudian, impor ini menjadi cerita atau pertunjukan semakin tidak mandirinya kita di bidang perekonomian, khususnya sektor pertanian. Itu catatan penting, yang neracanya kami akan coba baca untuk mencari solusi menyeimbangkan ini sehingga petani di dalam negeri mendapat tempat pertama dan utama,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Ganjar juga menyatakan, swasembada tidak dapat diwujudkan dalam waktu jangka pendek. Sebab, menurutnya, masalah di sektor pertanian saling terkait satu sama lainnya dan membutuhkan penyelesaian yang komprehensif.

“Ya, kalau kita melihat rutenya sudah dibuatkan roadmap. Tapi, kalau kita bicara jangka pendek, belum bisa. Maka mesti jangka menengah, mulai dari perbaikan pabrik gula, benih, pupuk, budi daya dan tata niaga, termasuk permodalan,” ujarnya.

Melalui rencana jangka menengah, ia optimistis setidaknya Indonesia sudah mengarah ke swasembada dan ini akan mempengaruhi kondisi perekonomian nasional.

“Kita harus belajar, orang terkaya di dunia ini salah satunya dulu adalah orang Indonesia dan itu bisnisnya gula, rumahnya masih ada di Semarang. Jadi, artinya kita mengalami banyak kemunduran dan kita mesti belajar untuk mengembalikannya,” tandas Ganjar. (*)

Tulisan Terkait

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *